Science

On May 1, 2011

BAWANG DAYAK (Eleutherine palmifolia) SEBAGAI TANAMAN OBAT MULTIFUNGSI

Bawang dayak atau bawang hantu (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) merupakan tanaman khas Kalimantan Tengah. Tanaman ini sudah secara turun temurun dipergunakan masyarakat Dayak sebagai tanaman obat. Tanaman ini memiliki warna umbi merah dengan daun hijau berbentuk pita dan bunganya berwarna putih. Dalam umbi bawang dayak terkandung senyawa fitokimia yakni alkaloid, glikosida, flavonoid, fenolik, steroid dan tannin. Secara empiris bawang dayak sudah dipergunakan masyarakat lokal sebagai obat berbagai jenis penyakit seperti kanker payudara, obat penurun darah tinggi (Hipertensi), penyakit kencing manis

(diabetes melitus), menurunkan kolesterol, obat bisul, kanker usus dan mencegah stroke. Penggunaan bawang dayak dapat dipergunakan dalam bentuk segar, simplisia, manisan dan dalam bentuk bubuk (powder). Potensi bawang dayak sebagai tanaman obat multi fungsi sangat besar sehingga perlu ditingkatkan penggunaanya sebagai bahan obat modern.

pemakaian obat tradisionalsemakin berkembang pesat akhir-akhir ini. Perkembangan ini didukung oleh kecenderungan manusia melakukan pengobatan secara alam atau kembali ke alam (back to nature). Pengobatan secara tradisional dianggap lebih praktis karena sudah berlangsung turun

temurun. Salah satu tanaman obat yang sudah dikembangkan khususnya di daerah Kalimantan Tengah adalah tanaman bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr). Tanaman ini mempunyai banyak jenis dengan bentuk dan jenis yang beragamseperti bawang merah, bawang putih dan berbagai jenis bawang lainnya. Ciri spesifik tanaman ini adalah umbi tanaman berwarna merah

menyala dengan permukaan yang sangat licin. Letak daun berpasangan dengan komposisi daun bersirip ganda. Tipe pertulangan daun sejajar dengan tepi daun licin dan bentuk daun berbentuk pita berbentuk garis. Selain digunakan sebagai tanaman obat tanaman ini juga dapat digunakan sebagai tanaman hias karena bunganya indah dengan warna putih yang memikat. Tanaman ini memiliki adaptasi yang baik, dapat tumbuh dalam berbagai tipe iklim dan jenis tanah. Selain hal tersebut di atas tanaman ini juga dapat diperbanyak dan di panen dalam waktu yang singkat, sehingga tanaman ini dapat dengan mudah dikembangkan untuk skala industri. Ramuan bawang dayak sudah lama dimanfaatkan berbagai kalangan masyarakat Dayak sebagai obat alternatif karena mudah.

Pasca panen

Hasil pengolahan tanaman obat ini antara lain : simplisia, bubuk, instant dan manisan.

a)     Pembuatan simplisia

Bawang dayak dicuci, dipotong akar dan daunnya, diiris dengan ketebalan 1 – 2 mm, dikeringkan dengan oven pada suhu 500C selama 8 jam, dan didinginkan, lalu dikemas

b)    Pembuatan bubuk

Bawang dayak dicuci, dipotong akar dan daunnya, diiris dengan ketebalan 1 – 2 mm, kemudian dikeringkan dengan oven pada suhu 50oC selama 8 jam, didinginkan, di haluskan dengan blender, diayak, dan dikemas

c)     Pembuatan instan

Bawang dayak dicuci, dipotong akar dan daunnya, diiris, ditambah air 1 : 2 b/v (1 kg bawang dayak ditambah dengan 2 l air), diblender, disaring dengan kain blacu, dimasak sampai mendidih sambil diadukaduk, ditambahkan gula 1: 1 b/b (1kg bawang dayak, ditambah 1 kg gula pasir), aduk terus sampai membentuk kristal (butir-butir halus), dinginkan, jika ukuran butiran besar, haluskan dengan blender dan dikemas

d)    Pembuatan manisan

Bawang dayak dicuci, dipotong akar dan daunnya, diiris dengan ketebalan 1 – 2 mm, kemudian dikukus selama 5 menit, masukkan dalam larutan gula yang telah dibuat (gula ditambah air, perbandingan 1 : 1 dimasak sampai kental sambil diaduk-aduk), dimasak sambil diaduk-aduk sampai kering, yang ditandai dengan adanya kristal gula. Kandungan Kimia Tanaman bawang dayak memiliki kandungan fitokimia antara lain alkaloid, glikosida, flavanoid, fenolik, steroid dan zat tannin yang merupakan sumber biofarmaka potensial untuk dikembangkan sebagai tanaman obat modern dalam kehidupan manusia. Alkaloid merupakan bahan organik yang mengandung nitrogen sebagai bagian dari heterosiklik.

Bahkan senyawa alkaloid, flavonoid, glikosida dan saponin memiliki aktivitas hipoglikemik atau penurun kadar glukosa darah yang sangat bermanfaat untuk pengobatan diabetes melitus, bahkan alkaloid yang ada dapat berfungsi sebagai anti mikroba. Sedangkan kandungan tanin yang ada dapat digunakan sebagai obat sakit perut. Penelitian tentang tanaman bawang dayak masih sangat kurang terutama dalam pengembangan sebagai bahan baku untuk pengembangan biofarmaka. Sampai saat ini pengembangan dan pemanfaatan tanaman ini sangat minim padahal manfaat tanaman ini sudah lama dirasakan masyarakat lokal Kalimantan Tengah.

Secara empiris diketahui tanaman ini dapat menyembuhkan penyakit kanker usus, kanker payudara, diabetes melitus, hipertensi, menurunkan kolesterol, obat bisul, stroke, sakit perut sesudah melahirkan. Kenyataan yang ada di masyarakat lokal merupakan bukti bahwa tanaman ini merupakan tanaman obat multifungsi yang sangat bermanfaat sehingga penelitian dan pengembangan lebih lanjut sangat diperlukan untuk kepentingan masyarakat.

Ronny Yuniar Galingging, BPTP Kalimantan Tengah

 

On April 24, 2011

Thin Layer Chromatography – Kromatografi lapis Tipis

Berdasarkan jenis kepolaran, Thin Layer Chromatography (TLC) system, atau disebut sebagai kromatografi lapis tipis dibedakan menjadi dua, yaitu normal phase (NP) dan reversed phase (RP). Dalam sebuah TLC sendiri ada dua komponen utama, yaitu fase diam (stable / immobilized phase) dan fase gerak (mobile phase) atau biasa disebut solvent/eluent. Pada jenis NP, untuk fase diam-nya digunakan bahan yang bersifat polar, pada umumnya menggunakan material silica gel (SiO2). Sedangkan pada jenis RP menggunakan material yang bersifat non polar, salah satunya adalah ODS (Octadecylsilane). Harga ODS sendiri jauh sangat mahal dibandingkan dengan harga silica gel, sehingga biaya TLC menggunakan sistem reversed phase membutuhkan biaya yang lebih tinggi.

Sebuah TLC dari sebuah Butanol ekstrak tanaman Lamiaceae.

Material yang digunakan dalam fase gerak memiliki sifat yang berkebalikan dengan sifat material yang digunakan dalam fase diamnya. Kenapa demikian, hal ini berfungsi untuk mengetahui apakah nantinya komponen atau senyawa aktif yang diuji di atas TLC dapat diketahui dia lebih cenderung ‘menyukai’ fase diam atau fase geraknya. Kalau senyawa itu lebih menyukai fase diamnya, berarti dia tidak akan bergerak cepat mengikuti laju pergerakan solvent yang disebabkan oleh daya kapilaritas, sehingga titik henti atau retention time (Rf), berada pada nilai rendah (posisi bagian bawah dari TLC), biasanya memiliki nilai Rf antara 0.20 – 0.30. Sedangkan kalau senyawa itu cenderung menyukai solventnya, maka dia akan cepat bergerak mengikuti arus kapilaritas dari solvent tersebut, biasanya berada pada nilai Rf antara 0.75 – 0.90.

Dengan demikian. pada NP system, dimana digunakan bahan bersifat polar sebagai fase diamnya, maka untuk fase geraknya digunakan solvent yang memiliki kepolaran yang rendah. Pada umumnya digunakan campuran antara chloroform dan methanol dengan berbagai perbandingan dimana komponen chloroform diberikan porsi yang lebih besar sebagai contoh (CHCl3:MeOH=65:35, 70:30, 75:25 dsb). Sedangkan pada RP system solvent yang digunakan memiliki sifat kepolaran yang tinggi, dalam hal ini campuran antara methanol dan air merupakan perpaduan yang sering digunakan dengan berbagai perbandingan misalnya MeOH:water= 30:40, 50:50, atau 30:20. Angka perbandingan ini disesuaikan dengan karakteristik senyawa yang sedang diuji. Berkaitan dengan perbandingan dari campuran solvent ini akan dibahas kemudian.

Sekarang, bagaimana cara kerja dari kedua sistem TLC tersebut? Yang pertama untuk sistem NP, jika kita menguji kepolaran antara 3 jenis senyawa yang berbeda tingkat kepolarannya. Sebagai contoh, berturut-turut dari senyawa A, B dan C, memiliki tingkat polaritas dari yang tertinggi ke yang rendah. Maka ketika ketiga senyawa diuji pada NP TLC senyawa A akan berada pada posisi terbawah (Rf terkecil), C akan berada di posisi teratas (Rf tinggi), sedangkan B akan berada di posisi tengah antara A dan C. Hal ini terjadi karena A (polaritas tinggi) secara kimia akan cenderung menyukai fase diam daripada fase geraknya karena sama-sama bersifat polaritas tinggi sehingga ikatan kimianya lebih kuat. Dengan demikian si A ini lebih memilih diam bersama menempel fase diam daripada ikut bergerak ke atas bersama solvent. Sedangkan senyawa C dengan polaritas yang lebih rendah tentunya ikatan kimia dengan fase diam lebih rendah, sehingga dia mempunyai kecenderungan menyukai fase gerak, oleh karena itu dia akan bergerak mengikuti pergerakan solvent yang pada akhirnya akan berhenti pada posisi tertentu (Rf). Sudah bisa dipastikan bahwa senyawa B akan berada pada posisi tengah2 antara A dan C.
Prinsip yang sama juga terjadi pada sistem RP, hanya saja hasilnya akan berkebalikan dengan NP, dalam kasus di atas senyawa A akan berada pada posisi teratas dan C pada posisi terbawah. Hal ini bisa dipahami karena memang baik fase diam maupun fase gerak kedua sistem berlawanan sifatnya.
Prinsip kedua jenis TLC yang telah dijelaskan di atas juga digunakan untuk column chromatography (CC). Karena pada dasarnya antara TLC dan CC adalah sama secara sistem kerjanya, hanya berbeda dari segi skala atau volume yang digunakan, baik fase diam atau fase gerak yang digunakan maupun senyawa yang dielusikan ke dalamnya.
Kemudian berkaitan dengan perbandingan campuran solvent yang digunakan. Perbandingan yang dipakai didasarkan pada karakteristik senyawa yang diujikan. Yang pertama untuk aplikasi pada jenis NP, jika senyawa yang diujikan memiliki tingkat polaritas yang tinggi, maka dia akan berada pada posisi Rf yang sangat kecil, misalkan antara 0.01-0.20, hal ini nanti akan kurang jelas terlihat pada saat pengamatan hasil dan yang lebih penting lagi ketika diaplikasikan pada skala yang lebih besar dengan menggunakan column chromatography maka hal ini akan menyulitkan proses elusi. Untuk itu agar Rf berada pada rentang 0.40-0.60, maka tingkat polaritas solvent harus ditingkatkan, misalkan pada awalnya menggunakan (CHCl3:MeOH=70:30), maka bisa ditingkatkan konsentrasi methanolnya menjadi (CHCl3:MeOH=60:40 atau 65:35), tergantung hasil ujioba (trial and error). Dan sebaliknya jika Rf terlalu tinggi (0.75-0.90) maka dapat diturunkan dengan menurunkan konsentrasi dari MeOH (atau lebih tepatnya komponen solvent dengan polaritas yang lebih tinggi)
Hal serupa juga berlaku pada sistem RP, misalkan fase geraknya adalah campuran antara methanol dan air, maka untuk mempertinggi nilai Rf dilakukan dengan cara meningkatkan konsentrasi methanol. Sebaliknya untuk menurunkan nilai Rf dengan cara meningkatkan konsentrasi air dalam campuran fase geraknya. Perbandingan yang optimal hanya didapatkan dengan melakukan beberapa uji trial and error dengan berbagai perbandingan, dapat dimulai dari standar (MeOH:water=1:1). Dapat disimpulkan untuk penentuan formulasi optimal fase gerak, yang menjadi kunci adalah permainan konsentrasi methanol, baik untuk NP maupun RP. Khusus pada RP sendiri, peran methanol sebagai kunci karena dia memiliki boiling point atau titik didih yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan air, sehingga daya kapilaritasnya akan lebih tinggi dibandingkan air.

Demikian semoga bermanfaat..

Dikutip dari:  Dosen TIP-UNLAM  http://agn19.wordpress.com/

On April 16, 2011

Faedah Buah Jeruk ( Vitamin C)

Jeruk Siam Banjar

Kita tahu jeruk merupakan salah satu buah yang memiliki kandungan vitamin C yang tinggi diantara jenis buah buahan yang lain. Menurut beberapa sumber setiap 100 mg daging buah jeruk mengandung sekitar 50 mg. Sedangkan tubuh kita disarankan untuk mengkonsumsi vitamin C minimal 60 mg/hari. Mengkonsumsi vitamin C yang banyak dari buah jeruk asli tidak membahayakan bagi organ tubuh (ginjal), karena vitamin C terlarut dengan air, sehingga kelebihannya dapat dikeluarkan dari tubuh bersama urin. Jika terlalu berlebihan kemungkinan yang kena adalah lambung atau diare, karena vitamin C bersifat asam. Tetapi mengkonsumsi vitamin C dosis tinggi yang berupa suplemen dapat membahayakan organ ginjal, karena ada beberapa komponen penyusun suplemen memaksa ginjal untuk bekerja lebih keras. Jeruk keprok atau jeruk siam, rata-rata memiliki berat kotor sekitar 130 gram. Jadi mengkonsumsi jeruk secara rutin dua sampai tiga buah perhari cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin C tubuh kita.
Kemudian, mengapa kita harus mengkonsumsi vitamin C, apa peran vitamin C dalam tubuh kita? Vitamin C berperan dalam sistem imunitas, sehingga keterjaminannya dalam tubuh, akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh, yang paling sederhana misalkan virus influenza. Selain itu vitamin C juga berperan sebagai senyawa antioksidan, yang mampu menangkal radikal bebas yang berpotensi menyebabkan timbulnya sel kanker. Selain karena vitamin C-nya mengkonsumsi jeruk segar juga akan memperlancar pencernaan, karena kandungan serat yang tinggi. Jadi mengkonsumsi jeruk dua sampai tiga buah setiap hari sangat besar sekali manfaatnya bagi kesehatan kita.

Dikutip dari:  Dosen TIP-UNLAM  http://agn19.wordpress.com/

Nutraceuticals

Produk nutrasetikal (nutraceuticals) secara fungsi dan karakteristiknya dapat diposisikan menjadi produk transisi antara produk pangan umum (food) dengan produk obat-obatan (drug). Produk pangan (food) dapat diartikan sebagai produk yang memiliki kandungan nutrisi pokok (karbohidrat, lemak, protein, vitamin atau mineral) yang dibutuhkan dalam metabolisme tubuh untuk pertumbuhan normal.

Sedangkan produk nutrasetikal diartikan sebagai produk yang mengandung komponen-komponen yang tidak terdapat atau terkandung tapi dalam jumlah minim pada produk pangan umum, seperti vitamin, mineral, asam lemak tak jenuh, asam amino ataupun komponen metabolit sekunder dari tumbuhan tertentu yang memberikan manfaat kesehatan.  Sebuah produk yang dihasilkan dari proses ekstraksi atau isolasi komponen dari tumbuhan yang memiliki efek perlindungan kesehatan yang kemudian dikemas  dalam bentuk kapsul, tablet, sirup atau serbuk juga dikategorikan sebagai produk nutrasetikal.

Produk ini memiliki fungsi memberikan efek fisiologi bagi tubuh, seperti meningkatkan kesehatan, menjaga stamina, meningkatkan performa fisik dan mental, serta untuk meningkatkan daya kekebalan tubuh atau mengurangi resiko terkena penyakit. Walaupun demikian, produk ini masih dikategorikan ke dalam produk pangan, sehingga produsen tidak perlu melakukan pengujian ketat terkait dengan keamanan dalam dosis penggunaannya seperti pada produk-produk obat. Tetapi beberapa negara di Eropa sangat ketat terhadap produsen dalam distribusi produk nutrasetikal ini. Hanya produk yang sudah teruji ketat yang dapat dipasarkan tanpa harus menggunakan resep, tetapi dalam label produk harus dicantumkan bahwa fungsi produk bukan untuk menyembuhkan atau mengobati penyakit, tetapi hanya untuk menjaga kesehatan.

Beberapa kelompok produk yang termasuk dalam nutrasetikal antara lain: suplemen (dietary supplements), pangan fungsional (functional foods), makanan obat (medical foods), farmasetikal (farmaceuticals), dan di Indonesia kita juga mengenal adanya produk Jamu, karena jamu tidak dapat dikategorikan sebagai produk obat (drugs).

Semoga bermanfaat,

Dikutip dari:  Dosen TIP-UNLAM  http://agn19.wordpress.com/

Freeze dryer

Beku-kering (juga dikenal sebagai Lyophilization atau Cryodesiccation) adalah proses dehidrasi yang biasanya digunakan untuk menyimpan bahan atau membuat bahan lebih nyaman untuk transportasi.

Freeze-pengeringan bekerja dengan pembekuan material dan kemudian mengurangi sekitar tekanan dan menambahkan panas cukup untuk memungkinkan air beku dalam material yang sublim langsung dari fasa padat ke fasa gas.

Pengeringan beku (freeze drying) adalah salah satu metoda pengeringan yang mempunyai keunggulan dalam mempertahankan mutu hasil pengeringan, khususnya untuk produk-produk yang sensitif terhadap panas.

Keunggulan

1.  Dapat mempertahankan stabilitas produk (menghindari perubahan aroma, warna, dan unsur organoleptik lain)

2.  Dapat mempertahankan stabilitas struktur bahan (pengkerutan dan perubahan bentuk setelah pengeringan sangat kecil).

3.  Dapat meningkatkan daya rehidrasi (hasil pengeringan sangat berongga dan lyophile sehingga daya rehidrasi sangat tinggi dan dapat kembali ke sifat fisiologis, organoleptik dan bentuk fisik yang hampir sama dengan sebelum pengeringan).

Kategori bahan

1.  Bahan pangan dan bahan farmasi (obatan)

2.  Plasma darah, serum, larutan hormon,

3.  Organ untuk transplantasi

4.  Sel hidup, untuk mempertahankan daya hidupnya dalam jangka waktu yang lama

Industri

Beku-pengeringan adalah proses yang relatif mahal. Peralatan tersebut adalah sekitar tiga kali lebih mahal sebagai peralatan yang digunakan untuk proses pemisahan lainnya, dan permintaan energi yang tinggi menyebabkan biaya energi tinggi.

Oleh karena itu, pengeringan beku-sering disediakan untuk bahan yang panas-sensitif, seperti protein , enzim , mikroorganisme , dan plasma darah

Cara Kerja

1.  Pembekuan: Produk ini beku. Hal ini memberikan kondisi yang diperlukan untuk pengeringan suhu rendah.

2.  Vacuum: pembekuan Setelah, produk berada di bawah vakum. Hal ini memungkinkan beku pelarut dalam produk tersebut untuk menguapkan tanpa melalui fase cair, suatu proses yang dikenal sebagai sublimasi.

3.  Panas: panas diterapkan untuk produk beku untuk mempercepat sublimasi

4.  Kondensasi:-suhu kondensor rendah menghapus piring pelarut menguap dari ruang vakum dengan mengkonversi kembali ke padat. This completes the seperation process. Ini melengkapi proses pemisahan.

Tahap 1

Pembekuan

Dalam hal ini, pembekuan dilakukan dengan cepat, sehingga mengurangi bahan hingga di bawah titikeutektik dengan cepat, sehingga menghindari pembentukan kristal es. Biasanya, suhu beku antara -50 ° C dan -80 ° C.. Fase pembekuan adalah yang paling penting dalam proses pengeringan beku-utuh, karena produk dapat rusak jika buruk dilakukan.

Tahap 2

Pengeringan  Primer

Selama fase pengeringan primer, tekanan diturunkan (untuk rentang beberapa milibar, dan cukup panas diberikan untuk bahan untuk  menghaluskan air.  biasanya di bawah -50 ° C (-60 ° F).

Tahap 3

Pengeringan  Sekunder

Pada tahap ini, suhu dinaikkan lebih tinggi dari pada tahap pengeringan primer, dan bahkan dapat di atas 0 ° C, untuk memecahkan interaksi fisiko-kimia yang terbentuk antara molekul air dan bahan beku. Pada akhir operasi, kadar air akhir sisa dalam produk ini sangat rendah, sekitar 1% sampai 4%.

Aplikasi

1. Freeze-Kering Buah-buahan di Produk Biskuit , Kopi Nestle Nescafe

2. MakananastronotdipesawatRuangAngkasa 

Sumber: http://www.wikipedia.com © 2004 American Lyophilizer, Inc


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s